Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu banyak orang. Ada yang hadir sebentar, ada yang menemani cukup lama, dan ada pula yang kita kira akan selamanya—namun ternyata pergi. Fenomena orang datang dan pergi sering kali menyisakan luka, tanya, bahkan kekecewaan.
Islam memandang hal ini bukan sebagai kebetulan, melainkan bagian dari takdir dan rencana Allah yang penuh hikmah. Tidak ada pertemuan tanpa maksud, dan tidak ada perpisahan tanpa pelajaran.
Setiap Pertemuan Adalah Ketetapan Allah
Dalam Islam, setiap manusia yang hadir dalam hidup kita sudah berada dalam catatan takdir Allah. Bahkan pertemuan yang singkat sekalipun memiliki makna.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).”
(QS. Al-Qamar: 49)
Ayat ini mengajarkan bahwa siapa pun yang hadir dalam hidup kita—baik membawa kebahagiaan maupun ujian—telah ditentukan dengan kadar dan waktunya masing-masing.
Orang Pergi Bukan Selalu Karena Salah Kita
Sering kali, saat seseorang pergi, kita menyalahkan diri sendiri. Padahal dalam Islam, perpisahan tidak selalu terjadi karena kesalahan, melainkan karena fase kehidupan yang berbeda.
Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ada orang yang pergi karena tugasnya dalam hidup kita telah selesai. Ada pula yang Allah jauhkan karena jika tetap dekat, justru akan menyakiti iman dan hati kita.
Hikmah di Balik Orang Datang dan Pergi
Islam mengajarkan bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah, termasuk perpisahan. Beberapa pelajaran penting di antaranya:
-
Allah sedang mengajarkan keikhlasan
-
Allah ingin kita lebih bergantung kepada-Nya, bukan kepada manusia
-
Allah sedang menyiapkan orang yang lebih tepat di waktu yang lebih baik
-
Allah ingin kita bertumbuh secara emosional dan spiritual
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika kamu bergantung kepada manusia, maka kamu akan kecewa. Namun jika kamu bergantung kepada Allah, maka kamu tidak akan pernah kehilangan.”
(HR. Ahmad)
BACA JUGA: Tips Produktif Ala Jepang yang Bisa Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Menyikapi Orang yang Datang dan Pergi
Islam tidak mengajarkan untuk menutup hati, tetapi juga tidak menganjurkan bergantung berlebihan pada manusia. Berikut sikap yang diajarkan Islam:
1. Terima dengan Ikhlas
Ikhlas bukan berarti tidak sedih, tetapi menerima bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
2. Jaga Adab Saat Berpisah
Meski hubungan berakhir, Islam tetap mengajarkan adab: tidak mencela, tidak membuka aib, dan tetap mendoakan kebaikan.
3. Ambil Pelajaran, Bukan Dendam
Setiap orang yang datang membawa pelajaran. Jangan fokus pada kepergiannya, tapi pada nilai yang ditinggalkan.
4. Kembalikan Hati kepada Allah
Manusia datang dan pergi, tetapi Allah selalu menetap. Inilah penguat hati seorang Muslim.
Allah SWT berfirman:
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”
(QS. Ali ‘Imran: 173)
Tidak Ada yang Benar-Benar Hilang
Dalam Islam, tidak ada pertemuan yang sia-sia dan tidak ada perpisahan tanpa makna. Orang boleh datang dan pergi, tetapi hikmah dan pahala dari sikap sabar serta ikhlas akan selalu menetap.
Jika hari ini kamu kehilangan seseorang, yakinlah:
Allah tidak sedang mengambil kebahagiaanmu, tetapi mengarahkannya ke bentuk yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar tinggal dalam hidup kita hanyalah iman, amal, dan ridha Allah.