Bolehkah Memakan Makanan Mentah Dalam Islam? Apa Hukumnya?

Apakah Sahabat termasuk pecinta sushi, sashimi, atau mungkin penggemar berat lalapan segar dan karedok? Tren mengonsumsi makanan mentah memang sedang naik daun, baik karena alasan kesehatan (seperti menjaga nutrisi sayuran) maupun sekadar hobi kuliner.

Namun, sebagai Muslim yang memperhatikan aspek thayyiban (kebaikan), muncul sebuah pertanyaan penting: Sebenarnya, boleh nggak sih kita makan makanan mentah dalam Islam?

Yuk, kita bedah tuntas dari sudut pandang syariat dan kesehatan!


1. Kaidah Asal: Semuanya Boleh, Kecuali…

Dalam Islam, ada sebuah kaidah fiqih yang sangat memudahkan kita: “Hukum asal dari segala sesuatu (urusan duniawi/makanan) adalah mubah (boleh), sampai ada dalil yang mengharamkannya.”

Jadi, pada dasarnya mengonsumsi makanan mentah—baik itu buah, sayuran, maupun daging hewan laut—adalah diperbolehkan. Tidak ada ayat Al-Qur’an maupun Hadist yang secara eksplisit melarang kita memakan makanan hanya karena statusnya “mentah”.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 4:

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Yang dihalalkan bagi kamu adalah (makanan) yang baik-baik…'” (QS. Al-Ma’idah: 4)

Selama makanan tersebut masuk dalam kategori thayyib (baik, bersih, dan bergizi), maka Sahabat bebas mengonsumsinya.


2. Syarat Mutlak: Halalan Thayyiban

Meskipun hukum asalnya boleh, Islam memberikan rambu-rambu melalui prinsip Halalan Thayyiban. Artinya, tidak cukup hanya “Halal” jenis hewannya, tapi juga harus “Baik” dampaknya bagi tubuh.

Dalam konteks makanan mentah, ada dua hal yang harus diperhatikan:

  • Bebas Najis dan Kotoran: Sayuran mentah harus dicuci bersih agar terhindar dari sisa pestisida atau bakteri tanah.

  • Tidak Membahayakan (Mudharat): Jika makanan mentah tersebut mengandung bakteri berbahaya (seperti Salmonella pada telur mentah atau parasit pada daging tertentu) yang bisa merusak kesehatan, maka hukumnya bisa berubah menjadi makruh atau bahkan haram.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak boleh memberikan dampak bahaya (bagi diri sendiri) dan tidak boleh memberikan dampak bahaya (bagi orang lain).” (HR. Ibnu Majah & Ahmad)

BACA JUGA: Baru Pertama kali Berzakat? Ini Yang Harus Diperhatikan


3. Bagaimana dengan Daging dan Ikan Mentah?

Sahabat mungkin bertanya, “Kalau sushi gimana?”

Para ulama berpendapat bahwa mengonsumsi ikan mentah (seperti sushi/sashimi) hukumnya boleh selama dipastikan ikan tersebut segar dan bebas dari parasit yang mengganggu kesehatan.

Namun, untuk daging hewan darat mentah (seperti steak tartare atau daging sapi mentah), para ulama cenderung menganjurkan untuk memasaknya. Mengapa? Selain karena alasan higienitas, memasak daging adalah cara terbaik untuk memastikan tidak ada darah yang tersisa (karena darah yang mengalir hukumnya haram).


4. Tips Mengonsumsi Makanan Mentah

Agar tetap berkah dan sehat saat menyantap hidangan mentah, yuk ikuti tips sederhana ini:

  1. Pastikan Kesegarannya: Pilih bahan pangan yang kualitasnya grade A atau memang khusus untuk dikonsumsi mentah.

  2. Cuci dengan Sempurna: Gunakan air mengalir untuk membersihkan sayuran dan buah agar pestisida luruh.

  3. Perhatikan Kondisi Tubuh: Jika Sahabat memiliki sistem imun yang lemah atau sedang hamil, sebaiknya hindari makanan mentah untuk mencegah risiko infeksi bakteri.

  4. Jangan Berlebihan: Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bagi lambung, apalagi jika makanan tersebut sulit dicerna dalam keadaan mentah.


Kesimpulan

Makan makanan mentah dalam Islam hukumnya boleh (mubah), selama makanan tersebut halal, bersih, dan tidak membawa dampak buruk bagi kesehatan. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keselamatan jiwa dan raga, jadi pastikan setiap suapan yang masuk ke tubuh kita memberikan energi untuk beribadah.