Sembunyi dalam Berbuat Baik: Bolehkah Merahasiakan Amal Saleh?

Pernahkah Sahabat berada di situasi di mana ingin membantu seseorang, tapi tiba-tiba terbesit pikiran: “Perlu difoto buat laporan nggak ya?” atau “Kalau aku diam saja, orang bakal tahu nggak ya kalau aku sudah bantu?”

Di zaman yang serba digital ini, privasi seolah menjadi barang mewah, termasuk dalam hal berbuat baik. Kita sering terjebak di antara keinginan untuk menginspirasi orang lain dan ketakutan akan kehilangan kemurnian niat atau yang sering kita sebut sebagai riya’.

Lantas, sebenarnya bolehkah—atau bahkan perlukah—kita menutupi kebaikan kita dari pandangan orang lain? Mari kita ngobrol lebih dalam.


1. Seni Merahasiakan Kebaikan dalam Islam

Dalam Islam, menjaga kerahasiaan amal memiliki kedudukan yang sangat spesial. Bahkan, ada istilah “Amalan Sirri” atau amalan rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan si pelakunya saja. Ini adalah cara paling ampuh untuk melatih keikhlasan hati.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 271)

Ayat ini memberikan kita perspektif yang seimbang: menunjukkan kebaikan itu boleh (apalagi jika tujuannya edukasi atau syiar), tapi menyembunyikannya adalah lebih baik untuk menjaga kesucian hati.

BACA JUGA: Hidup Tak Sesuai Rencana: Wajarkah Kita Marah?

2. “Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Tak Tahu”

Sahabat pasti pernah mendengar kiasan indah ini, bukan? Kiasan ini berasal dari hadits Rasulullah SAW mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat kelak. Salah satunya adalah:

“…seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan sedekahnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Secara humanis, ini mengajarkan kita tentang kerendahan hati yang luar biasa. Bahwa kebaikan bukanlah komoditas untuk membangun citra diri, melainkan “investasi” langit yang tidak butuh validasi manusia.

3. Kapan Kita Harus Menunjukkan Kebaikan?

Mungkin Sahabat bertanya, “Berarti kalau Yayasan Desa Hijau posting kegiatan berbagi di Instagram, itu salah?”

Tentu tidak, Sahabat. Ada kalanya kebaikan harus terlihat untuk:

  • Membangun Kepercayaan: Terutama bagi lembaga sosial agar donatur tahu amanahnya tersampaikan.

  • Menginspirasi (Fastabiqul Khairat): Terkadang orang bergerak karena melihat orang lain bergerak. Contohnya, saat Sahabat mengajak teman-teman untuk ikut donasi pohon atau sedekah sampah di Desa Hijau.

Kuncinya bukan pada kamera-nya, melainkan pada niat di balik layarnya.


Menjaga Hati di Tengah Riuhnya Dunia

Menutupi kebaikan dari orang lain sebenarnya adalah cara kita “beristirahat” dari penilaian manusia. Bayangkan betapa tenangnya hati saat kita melakukan sesuatu yang besar, namun hanya kita dan Tuhan yang tahu. Rasanya seperti memiliki rahasia manis yang membuat kita tersenyum sendirian saat mengingatnya.

Jadi, kalau Sahabat punya kesempatan untuk berbuat baik tanpa seorang pun tahu, ambillah kesempatan itu. Itu adalah momen “me-time” terbaik antara Sahabat dengan Sang Pencipta.

Kesimpulannya? Menyembunyikan kebaikan sangat dianjurkan untuk menjaga keikhlasan. Namun, jika harus ditunjukkan untuk tujuan kemaslahatan yang lebih besar, pastikan hati kita tetap “menunduk” dan tidak merasa lebih baik dari orang lain.


Lebih nyaman beraksi dalam senyap atau berbagi untuk menginspirasi?