Tidur: Cara Lembut Allah Menghilangkan Amarah Hamba-Nya

Pernahkah Sahabat merasa sangat lelah setelah seharian beraktivitas, lalu begitu menyentuh bantal, semua beban seolah luruh? Dunia yang bising tiba-tiba sunyi, dan tubuh yang tegang perlahan rileks. Tahukah Sahabat, bahwa momen “mati kecil” tersebut adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang paling nyata?

Seringkali kita menganggap tidur hanyalah rutinitas biologis biasa. Padahal, jika kita selami lebih dalam, tidur adalah fasilitas reset gratis yang diberikan Sang Pencipta agar kita tidak hancur karena beban dunia yang tiada habisnya.

Tidur Sebagai Tanda Kebesaran-Nya

Allah SWT telah menegaskan bahwa fenomena tidur bukanlah kebetulan. Ini adalah desain agung untuk keberlangsungan hidup manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidur berdampingan dengan mencari nafkah. Artinya, istirahat sama pentingnya dengan bekerja. Allah tidak menciptakan kita sebagai mesin yang bekerja tanpa henti. Dia Maha Tahu bahwa fisik dan jiwa kita memiliki batas. Dengan memberikan rasa kantuk, Allah sedang menjaga kita agar tidak melampaui batas kemampuan diri sendiri.

BACA JUGA: Menjemput Ketenangan: Seni Menumbuhkan Kesadaran dalam Jiwa

“Obat Padam” Saat Api Amarah Membara

Menariknya, Sahabat, tidur bukan hanya soal mengistirahatkan otot yang pegal, tapi juga soal menjaga kesehatan mental dan emosi. Pernahkah Sahabat merasa sangat marah, namun setelah dibawa tidur, perasaan sesak itu mereda saat bangun pagi?

Dalam Islam, marah sering diibaratkan sebagai bara api yang ditiupkan setan ke dalam hati. Rasulullah SAW memberikan resep yang sangat logis sekaligus spiritual untuk meredamnya. Beliau bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika amarahnya belum hilang, maka berbaringlah.” (HR. Abu Dawud)

Berbaring adalah langkah menuju tidur. Di sinilah letak kasih sayang Allah: saat emosi kita memuncak dan logika tertutup, Allah memberikan rasa lelah sebagai “rem” otomatis. Tidur menjadi jeda agar kita tidak melakukan tindakan destruktif yang kelak kita sesali. Saat kita tidur, hormon stres (kortisol) menurun, dan Allah menenangkan sistem saraf kita sehingga kita bangun dengan kepala yang lebih dingin.

Hadis Tentang Hak Tubuh

Sahabat, Rasulullah SAW juga sangat menekankan pentingnya memberikan hak kepada tubuh kita agar tetap seimbang. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“…Puasa dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah. Karena sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu…” (HR. Bukhari)

Saat kita memaksakan diri untuk terus terjaga tanpa alasan yang syar’i, kita sebenarnya sedang mendzalimi diri sendiri. Sebaliknya, saat kita merebahkan diri dengan niat mengikuti sunnah, setiap tarikan napas dalam tidur kita bisa bernilai ibadah.

Menjadikan Tidur Lebih Bermakna

Agar tidur kita menjadi bentuk syukur yang sempurna, ada beberapa langkah kecil yang bisa Sahabat lakukan:

  1. Berdamai dengan Hari Ini: Sebelum memejamkan mata, maafkanlah semua orang. Jangan biarkan hati membawa beban amarah saat menghadap Allah dalam tidur.

  2. Berdzikir Singkat: Mengingat Allah sebelum tidur memberikan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh scrolling media sosial.

  3. Niatkan untuk Ketaatan: Niatkan tidur agar besok pagi bisa bangun dalam keadaan segar untuk melaksanakan Shalat Subuh dan menjemput rezeki-Nya.

Tidur adalah pelukan tak kasat mata dari Allah bagi jiwa-jiwa yang lelah dan hati yang sedang membara. Ini adalah bukti bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya.