Bukan Sekadar Kenyang, Begini Seni Berbuka Puasa ala Rasulullah SAW

pernahkah Sahabat terpikir, bagaimana sih cara Rasulullah SAW berbuka puasa? Ternyata, pola berbuka beliau sangat jauh dari kesan berlebihan. Beliau mengajarkan kita sebuah seni dalam membatalkan puasa yang tidak hanya menggugurkan kewajiban, tapi juga menjaga kebugaran tubuh dan mendatangkan pahala sunnah.

1. Awali dengan yang Manis dan Segar (Kurma & Air Putih)

Rasulullah tidak langsung menyantap hidangan berat. Beliau biasanya memulai dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, beliau beralih ke tamr (kurma kering), dan jika keduanya tidak ada, barulah beliau meminum beberapa teguk air putih.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kamu berbuka, hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Mengapa ini penting? Secara medis, kurma mengandung glukosa alami yang cepat diserap tubuh untuk mengembalikan energi yang hilang setelah seharian berpuasa. Air putih pun berfungsi membersihkan pencernaan sebelum menerima makanan lain.

2. Menyegerakan Berbuka (Al-I’tijal)

Sahabat, seringkali kita asyik mengobrol atau malah sibuk memotret makanan hingga menunda waktu berbuka. Padahal, menyegerakan berbuka adalah salah satu kunci keberkahan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyegerakan di sini artinya segera membatalkan puasa begitu waktu Maghrib tiba, bukan berarti terburu-buru menghabiskan semua makanan, ya!

3. Jangan Lupa Berdoa

Momen berbuka adalah salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Jangan sampai karena terlalu lapar, kita lupa berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Ucapkanlah doa yang diajarkan Rasulullah:

“Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, serta pahala telah tetap, insya Allah).

4. Tidak Berlebihan (Mindful Eating)

Ini dia tantangan terberat kita: menahan diri dari “lapar mata”. Islam sangat melarang perilaku berlebih-lebihan (israf). Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 31:

“…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Perut yang terlalu penuh justru akan membuat kita malas melaksanakan ibadah shalat Maghrib dan Tarawih. Rasulullah memberikan rumus ideal bagi lambung kita: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (nafas).

Penutup

Sahabat, mengikuti gaya hidup Rasulullah dalam berbuka puasa bukan hanya soal menjalankan tradisi, tapi tentang menyeimbangkan kebutuhan fisik dan spiritual. Dengan berbuka secara sederhana dan benar, kita tetap punya energi yang cukup untuk beribadah di malam hari.