Pernahkah Sahabat mendengar ungkapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki? Ungkapan ini sangat populer dalam percakapan sehari-hari, majelis taklim, hingga nasehat pernikahan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang salah memahami maksud di baliknya. Ada yang menganggapnya secara fisik harfiah, bahkan tak jarang dijadikan alasan untuk menyudutkan perempuan sebagai sosok yang “bengkok” atau sulit diatur.
Lantas, bagaimana sebenarnya makna hakiki dari hadis tersebut dalam pandangan Islam dan penafsiran para ulama? Mari kita bedah bersama agar kita bisa memahami pesan kelembutan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah SAW.
Teks dan Kedudukan Hadis
Pernyataan mengenai tulang rusuk ini berakar dari hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
استوصوا بالنساء خيراً فإن المرأة خلقت من ضلع وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه فإن ذهبت تقيمه كسرته وإن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء خيراً
“Berwasiatlah kalian kepada wanita dengan kebaikan. Karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau mencoba meluruskannya (secara paksa), engkau akan mematahkannya. Namun jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan.” (HR. Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 1468)
Hadis ini memiliki kedudukan sanad yang sangat kuat (shahih). Namun, titik krusial yang sering menjadi perdebatan terletak pada penafsiran teks tersebut: apakah ia bermakna fisik biologis atau sekadar kiasan (tasybih)?
Memahami Metafora Tulang Rusuk: Fisik atau Karakter?
Mayoritas ulama kontemporer dan ahli tafsir klasik menekankan bahwa ungkapan “diciptakan dari tulang rusuk” adalah metafora (majaz) mengenai tabiat, emosi, dan karakter alami perempuan, bukan proses penciptaan material setiap wanita setelah Hawa.
Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa penggunaan kata dhi’in (tulang rusuk) merupakan penyerupaan sifat. Sama halnya ketika Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari ketergesaan (khuliqal-insanu min ‘ajal dalam QS. Al-Anbiya: 37), bukan berarti zat tubuh manusia terbuat dari rasa tergesa-gesa.
Berikut adalah penafsiran mendalam dari sifat dan fungsi tulang rusuk tersebut:
-
Fungsi Melindungi Organ Vital: Tulang rusuk melengkung mengelilingi dada untuk menjaga organ paling krusial, yaitu jantung dan paru-paru. Perempuan dibekali perasaan yang peka dan empati tinggi untuk melindungi, mengayomi, serta merawat kehidupan rumah tangga dan anak-anak.
-
Kelengkungan yang Memiliki Peran: Tulang rusuk yang bengkok bukanlah produk cacat, melainkan bentuk anatomis ideal. Jika tulang rusuk dibuat lurus kaku, rongga dada tidak akan mampu mengembang untuk bernapas. Begitu pula emosi dan kepekaan perempuan—meski terkadang berbeda dari pola pikir linier laki-laki—merupakan elemen vital yang memberi dinamika kehangatan dalam hubungan.
-
Bahaya Memaksa Lurus: Rasulullah SAW mengingatkan bahwa jika laki-laki memaksa meluruskan karakter alami perempuan dengan kekerasan atau ego sepihak, tulang itu akan “patah”. Para ulama sepakat bahwa kata “mematahkan” (kasratuha) dalam hadis ini merujuk pada perpisahan atau perceraian (ath-thalaq).
Sudut Pandang Psikologi dan Interaksi Sosial Modern
Jika kita tarik ke konteks sosial hari ini, pesan Rasulullah SAW sangat relevan dengan dinamika komunikasi pasangan di era modern:
-
Menghargai Perbedaan Pola Pikir: Laki-laki cenderung menitikberatkan pada pemecahan masalah secara teknis, sedangkan perempuan memproses pengalaman dengan mengintegrasikan empati dan rasa secara mendalam. Menuntut perempuan untuk berpikir kaku persis seperti laki-laki adalah bentuk “pemaksaan meluruskan” yang kerap memicu konflik.
-
Bimbingan dengan Kelembutan: Islam tidak menyuruh laki-laki membiarkan kekeliruan perempuan tanpa arahan, melainkan mengajarkan metode membimbing yang penuh kesabaran. Perintah utama dalam hadis ini diawali dan diakhiri dengan klausa yang sama: astawsu bin-nisa’i khayran (berwasiatlah kepada wanita dengan cara yang baik).
Pelajaran Penting untuk Hubungan yang Harmonis
Dari penafsiran hadis ini, Sahabat dapat memetik beberapa poin penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berumah tangga:
-
Untuk Laki-Laki: Pahamilah bahwa pasanganmu hadir bukan untuk disamakan sepenuhnya dengan sudut pandangmu. Hargai intuisi dan kelembutannya sebagai pelengkap atas kekurangan yang ada pada dirimu.
-
Untuk Perempuan: Kelembutan dan sensitivitas emosional adalah kekuatan pelindung, bukan kelemahan. Salurkan sifat alami tersebut untuk membangun ketenangan (sakinah) dalam lingkungan keluarga.
-
Prinsip Saling Melengkapi (Taqamul): Hubungan yang sehat dibangun di atas rasa saling memahami bentuk dan peran masing-masing, bukan saling mendominasi.
Hadis ini tidak pernah bertujuan untuk merendahkan posisi perempuan. Sebaliknya, Rasulullah SAW memberikan panduan psikologis agar laki-laki memperlakukan perempuan dengan penuh penghormatan—sebagaimana tulang rusuk yang letaknya dekat dengan hati untuk dicintai, dan di bawah naungan lengan untuk dilindungi.
Referensi dan Sumber Rujukan
-
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya, Hadis No. 3331.
-
Al-Naisaburi, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, Kitab ar-Radha’, Hadis No. 1468.
-
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Penjelasan Hadis No. 3331.
-
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Penjelasan Hadis No. 1468.
-
Shihab, M. Quraish. (2018). Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.