Halo, Sahabat! Pernahkah kamu terjebak dalam situasi sulit di mana mengatakan kejujuran rasanya seperti menjatuhkan bom, sementara sedikit “bumbu kebohongan” terlihat seperti jalan keluar yang manis? Kita sering menyebutnya white lies atau berbohong demi kebaikan.
Namun, sebagai pribadi yang ingin terus bertumbuh dan menjaga integritas, muncul pertanyaan di hati: “Sebenarnya, boleh nggak sih kita berbohong demi kebaikan?” Yuk, kita bedah tuntas dari sudut pandang umum dan nilai-nilai Islami!
Kejujuran sebagai Fondasi Utama
Secara umum, kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Tanpa kejujuran, kepercayaan (trust) dalam sebuah hubungan—baik itu pertemanan, keluarga, maupun profesional—akan runtuh. Namun, realita kehidupan terkadang tidak sehitam-putih itu. Ada kalanya sebuah kebenaran yang disampaikan secara vulgar justru memicu perpecahan yang lebih besar.
Pandangan Islam tentang Berbohong
Dalam Islam, kejujuran adalah karakter utama seorang muslim. Namun, Islam adalah agama yang sangat memahami kompleksitas manusia. Pada dasarnya, berbohong adalah dosa, namun ada pengecualian yang sangat spesifik dan ketat.
Rasulullah ﷺ memberikan panduan mengenai situasi di mana “berbohong” secara teknis diperbolehkan demi mencapai maslahat (kebaikan) yang lebih besar. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim:
“Aku tidak mendengar Rasulullah memberi keringanan dalam perkataan yang diucapkan manusia (berbohong) kecuali dalam tiga hal: Perang, mendamaikan orang yang berselisih, dan percakapan suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya (untuk menyenangkan hati).” (HR. Muslim No. 2605)
BACA JUGA: Mengulik Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadhan
Kapan “Berbohong” Itu Menjadi Boleh?
Mari kita bedah tiga poin di atas agar Sahabat tidak salah kaprah:
-
Mendamaikan Hubungan: Jika Sahabat melihat dua teman sedang bertikai, dan Sahabat mengatakan kepada pihak A bahwa pihak B sebenarnya memujinya (padahal tidak), demi mencairkan suasana dan menyambung silaturahmi, maka ini diperbolehkan.
-
Menjaga Keharmonisan Keluarga: Memberikan pujian kepada pasangan meskipun mungkin sedikit berlebihan (misal: memuji masakan yang sebenarnya keasinan) demi menjaga perasaannya dan kebahagiaan rumah tangga.
-
Situasi Darurat/Perang: Mengelabui musuh demi menyelamatkan nyawa orang banyak atau menjaga rahasia negara yang krusial.
Batasan yang Harus Diwaspadai
Meskipun ada lampu hijau dalam kondisi tertentu, jangan sampai kita menjadikannya “kartu sakti” untuk terus-menerus tidak jujur, ya! Sahabat perlu ingat bahwa berbohong demi kebaikan harus memenuhi syarat:
-
Tidak merugikan hak orang lain.
-
Tidak ada cara lain lagi selain opsi tersebut.
-
Tujuannya benar-benar untuk menghindari kerusakan (mudharat) yang lebih besar.
Jika Sahabat berbohong hanya untuk menutupi kesalahan pribadi atau mencari keuntungan sendiri, tentu itu tetap dilarang dan menjauhkan kita dari keberkahan.
Kejujuran tetaplah jalan ninja yang utama. Rasulullah ﷺ bersalah: “Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga.”
Berbohong demi kebaikan adalah pengecualian, bukan kebiasaan. Mari kita bijak menempatkan kata-kata agar keharmonisan tetap terjaga tanpa mengorbankan integritas diri.