Pernahkah Sahabat merasa sudah memberikan segalanya—tenaga, waktu, hingga air mata—namun hasil yang didapat justru jauh dari harapan? Di titik itu, rasanya dunia tidak adil. Muncul gejolak di dada yang meledak menjadi amarah, baik kepada orang sekitar, keadaan, atau bahkan kepada Sang Pencipta. Pertanyaannya, dalam perjalanan hidup yang penuh teka-teki ini, patutkah kita marah jika hidup tidak berjalan sesuai keinginan?
Memahami Akar Amarah dan Ekspektasi
Secara psikologis, marah adalah reaksi alami saat ego kita merasa terancam atau saat kendali yang kita genggam terlepas. Kita sering membuat “skenario ideal” di kepala tentang bagaimana karier, keluarga, dan masa depan seharusnya berjalan. Ketika realita mengetuk pintu dengan skenario yang berbeda, kita merasa kalah.
Namun, Sahabat, perlu kita renungi kembali: apakah kita benar-benar memiliki kendali atas segalanya? Di sinilah pentingnya manajemen ekspektasi. Menaruh harapan 100% pada hasil hanya akan membuahkan kekecewaan. Sebaliknya, menaruh harapan pada proses dan ikhtiar akan memberikan ketenangan, apa pun hasil akhirnya.
Sudut Pandang Spiritual: Rahasia di Balik Ketetapan
Dalam Islam, hidup ini diibaratkan sebagai sebuah sekolah besar. Setiap kejadian, baik yang manis maupun yang pahit, adalah materi pelajaran. Jika kita marah karena keinginan tak terpenuhi, mungkin kita sedang lupa bahwa pandangan manusia itu sangat terbatas. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Bayangkan seorang anak kecil yang marah karena dilarang ibunya bermain pisau tajam. Si anak melihat pisau itu berkilau dan menarik, tapi sang ibu melihat bahaya di baliknya. Begitulah seringnya hubungan kita dengan ketetapan Allah. Kita marah karena kehilangan “pisau” yang kita inginkan, tanpa sadar Allah sedang melindungi kita dari luka yang lebih dalam.
BACA JUGA: Ketahui Tanaman Herbal yang Bisa Dipakai untuk Luka dan Obat Alami
Bahaya Memelihara Api Amarah
Marah yang dipelihara bukan hanya merusak suasana hati, tapi juga kesehatan fisik dan mental. Rasulullah SAW berkali-kali mengingatkan kita untuk menahan amarah. Dalam sebuah hadist populer, seseorang meminta nasihat kepada Rasulullah, dan beliau menjawab: “Janganlah kamu marah,” yang diulanginya sebanyak tiga kali (HR. Bukhari).
Amarah yang kronis akan menutup pintu logika. Saat kita marah pada hidup, kita menjadi buta terhadap peluang-peluang baru yang mungkin sedang terbuka tepat di depan mata. Kita terlalu sibuk meratapi pintu yang tertutup, hingga tak sadar ada jendela yang sedang terbuka lebar.
Langkah Praktis Berdamai dengan Realita
Lalu, bagaimana cara meredam amarah saat hidup terasa “tidak asyik”?
-
Jeda dan Napas: Saat emosi memuncak, jangan mengambil keputusan atau berucap. Rasulullah mengajarkan kita untuk mengubah posisi tubuh atau berwudhu untuk mendinginkan api amarah.
-
Audit Syukur di Tengah Badai: Cobalah ambil kertas dan tuliskan hal-hal yang masih berjalan baik. Meski satu rencana gagal, mungkin kesehatan kita masih terjaga, atau keluarga masih mendukung. Syukur adalah penawar paling mujarab untuk amarah.
-
Dialog dengan Diri Sendiri: Tanyakan, “Apakah marahku akan mengubah hasil?” Jika tidak, maka lebih baik alihkan energi tersebut untuk menyusun rencana baru (Plan B).
-
Husnuzan (Berprasangka Baik): Tanamkan keyakinan bahwa jika sesuatu tidak menjadi milikmu, maka itu memang bukan yang terbaik untukmu saat ini.
Kesimpulan
Merasa sedih itu manusiawi, tapi marah yang meluap-luap hanya akan merugikan diri sendiri. Hidup memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi yakinlah bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan pada waktu yang paling tepat.