Menyentuh Cahaya Ilahi: Kisah Tunanetra Bu Mia dan Bu Sri

Pernahkah Sahabat membayangkan bagaimana rasanya merindukan cahaya di tengah kegelapan? Bagi kita yang diberikan kesempurnaan penglihatan, membaca Al-Qur’an mungkin terasa seperti aktivitas harian yang biasa. Namun, bagi saudara-saudara kita yang tunanetra, setiap huruf hijaiyah yang mereka raba adalah tetesan embun di tengah padang pasir—sebuah perjuangan sekaligus harapan yang luar biasa.

Alhamdulillah, berkat aliran kasih sayang dan kedermawanan Sahabat semua, pada tanggal 19 Januari 2026, program Wakaf Al-Qur’an Braille dari Yayasan Desa Hijau telah sukses terlaksana. Mushaf-mushaf istimewa ini telah sampai ke tangan mereka yang sangat merindukannya.

Dalam penyaluran kali ini, ada dua kisah inspiratif yang ingin kami bagikan. Kisah yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencintai Kalamullah.

Kisah Bu Mia: Semangat yang Tak Pernah Padam

Pertama, mari kita berkenalan dengan Bu Mia. Beliau menjalani hari-harinya seorang diri. Tanpa keluarga inti di sisinya, Bu Mia hanya mengandalkan bantuan dari kerabat dan saudara jauh untuk menyambung hidup. Namun, di tengah kesunyian itu, Bu Mia memiliki satu ambisi besar: lancar membaca Al-Qur’an.

Setiap hari, jemari beliau dengan sabar meraba titik demi titik timbul di atas kertas. Meski perlahan, ada ketenangan yang terpancar dari wajahnya setiap kali ia berhasil mengeja satu ayat. Bagi Bu Mia, Al-Qur’an Braille ini adalah teman bicara terbaik saat sepi melanda.

Kisah Bu Sri: Penantian Panjang Selama 25 Tahun

Lain lagi dengan kisah Bu Sri. Beliau adalah seorang terapis pijat tunanetra yang tinggal di Rusunawa. Tahukah Sahabat? Bu Sri sebenarnya sudah bisa membaca Al-Qur’an Braille sejak lama. Namun, karena harga mushaf Braille yang sangat mahal—bisa mencapai jutaan rupiah per set—beliau terpaksa berhenti membaca sejak 25 tahun yang lalu.

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk memendam rindu pada firman-Nya. Di sela-sela waktu istirahatnya setelah lelah memijat, Bu Sri seringkali hanya bisa mengingat-ngingat hafalan surat pendeknya. Kini, ketika tim Yayasan Desa Hijau menyerahkan mushaf Braille baru ke tangannya, tangis haru tak lagi terbendung. Rindu itu akhirnya tuntas.

BACA JUGA: Bolehkah Memakan Makanan Mentah Dalam Islam? Apa Hukumnya?


Mengalirkan Pahala Jariyah Lewat Jari Mereka

Apa yang dialami Bu Mia dan Bu Sri adalah pengingat bagi kita semua. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Barangsiapa yang menunjukkkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Bayangkan, Sahabat. Setiap kali Bu Mia meraba ayat-ayat Allah, dan setiap kali Bu Sri melantunkan dzikir dari mushaf tersebut, pahalanya juga akan terus mengalir kepada Sahabat yang telah berwakaf. Inilah yang kita sebut sebagai Sedekah Jariyah—investasi akhirat yang takkan pernah putus meski kita telah tiada.

Al-Qur’an bagi mereka bukan sekadar kitab suci, melainkan lentera di hati yang memberikan kekuatan untuk terus bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Terima Kasih, Sahabat

Kami mewakili Bu Mia, Bu Sri, dan seluruh penerima manfaat mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh Sahabat Dermawan. Melalui perantara donasi Anda di Yayasan Desa Hijau, harapan mereka yang tadinya redup kini kembali bersinar terang.

Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan Sahabat dengan keberkahan yang berlipat ganda, kesehatan yang paripurna, dan perlindungan di dunia maupun akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.