Multitasking Itu “Keren”?
Kamu pernah gak lagi kerja, sambil buka WhatsApp, dengerin musik, buka Instagram, terus mikirin tugas lain yang belum kelar? 🤯 Kalau iya, selamat! Kamu termasuk “tim multitasking”.
Sekilas multitasking kelihatan keren. Kita ngerasa kayak manusia super yang bisa ngerjain banyak hal sekaligus. Tapi faktanya, multitasking itu lebih mirip jebakan batman: bikin kita terlihat sibuk, padahal hasil kerja malah berantakan.
Menurut riset, multitasking bikin otak kita lebih cepat capek, produktivitas menurun, bahkan bisa ngacauin emosi. Jadi kalau akhir-akhir ini kamu sering merasa lelah padahal tugas gak seberapa, multitasking mungkin penyebabnya.
Apa Itu Multitasking?
Multitasking adalah kebiasaan ngerjain beberapa aktivitas dalam waktu yang bersamaan. Istilah ini populer banget sejak dunia digital makin rame, apalagi dengan smartphone di tangan. Misalnya:
-
Ngetik laporan sambil scroll Instagram.
-
Belajar sambil balas chat.
-
Video call sambil buka email kerjaan.
-
Nonton film sambil kerjain tugas kuliah.
Masalahnya, otak kita bukan mesin multi-core kayak laptop gaming. Otak cuma bisa fokus ke satu hal pada satu waktu. Jadi pas kita “loncat” dari satu tugas ke tugas lain, otak butuh waktu buat “switch”. Proses pindah fokus inilah yang bikin energi mental terkuras.
Bahaya Multitasking yang Jarang Disadari
a. Otak Cepat Capek
Setiap kali pindah aktivitas, otak kayak harus “restart”. Energi mental jadi boros banget.
b. Produktivitas Turun
Banyak orang kira multitasking bikin kerjaan cepat selesai. Padahal menurut American Psychological Association, pindah-pindah fokus bisa nurunin efisiensi kerja sampai 40%. Jadi, bukannya makin produktif, justru makin lama kelar.
c. Kualitas Kerja Turun
Karena fokus terbagi, hasil kerja sering asal-asalan. Akhirnya gak maksimal.
d. Mudah Lupa & Hilang Fokus
Pernah lupa apa yang barusan dikerjain? Itu karena memori jangka pendek terganggu.
e. Gangguan Emosi
Multitasking bikin kita gampang bete, gampang cemas, bahkan mood swing. Hal ini karena otak bekerja lebih keras dari biasanya.
f. Gangguan Fisik
Gak cuma mental, fisik juga kena dampaknya. Semisal duduk lama tanpa sadar karena keasyikan multitasking bisa bikin pegal, sakit kepala, bahkan gangguan tidur.

Kenapa Kita Masih Suka Multitasking?
Kalau multitasking bahaya, kenapa banyak orang masih ngejalanin?
-
FOMO (Fear of Missing Out): takut ketinggalan info, jadi ngerasa harus cek notif terus.
-
Ngerasa Keren: multitasking dianggap tanda produktif.
-
Dopamin Instan: Setiap notif medsos ngasih rasa senang singkat, bikin kita ketagihan pindah-pindah aktivitas.
-
Lingkungan: Kantor atau sekolah sering mendorong kita ngerjain banyak hal sekaligus.
Apa Kata Ilmu Tentang Multitasking?
Penelitian telah banyak ngebuktiin bahaya multitasking:
-
Clifford Nass – Stanford University
Clifford Nass, profesor komunikasi di Stanford, pernah bilang kalau orang yang sering multitasking justru lebih buruk dalam menyaring informasi. Alih-alih jadi cepat tanggap, mereka malah gampang terdistraksi.
“Mereka (multitasker) tidak bisa menyaring informasi yang tidak relevan, dan itu justru melemahkan kemampuan mereka untuk fokus.”
-
Glenn Wilson – University of London
Penelitian Glenn Wilson menunjukkan bahwa multitasking bisa menurunkan IQ sementara hingga 15 poin. Angka ini setara dengan orang yang semalaman gak tidur.
“Multitasking digital membuat orang berada dalam kondisi seperti kehilangan satu malam tidur penuh.”
-
Eyal Ophir – Stanford University
Dalam studinya, Ophir menemukan bahwa multitasker berat kesulitan untuk berpindah dari satu tugas ke tugas lain. Otak mereka jadi kewalahan dan butuh waktu lebih lama untuk “switch focus”.
“Mereka lebih lambat berpindah antar-tugas, meskipun mereka yakin bisa melakukannya dengan baik.”
-
American Psychological Association (APA)
APA menegaskan bahwa setiap kali seseorang pindah dari satu tugas ke tugas lain, otaknya mengalami “switching cost”. Waktu yang terbuang bisa mencapai 40% dari produktivitas harian.
“Berpindah tugas itu tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar berupa hilangnya efisiensi.”
-
David Meyer – University of Michigan
David Meyer, seorang pakar psikologi kognitif, menambahkan kalau multitasking yang melibatkan tugas kompleks (misalnya membaca laporan sambil menulis email) justru bisa melipatgandakan kesalahan.
“Multitasking dalam pekerjaan kompleks bukan hanya memperlambat, tapi juga meningkatkan kemungkinan error.”
Jadi kalau kamu ngerasa sering blank atau cepat lupa, bisa jadi otakmu udah “kelelahan” akibat multitasking terus-menerus.
Dari Bahaya ke Kenyataan
Nah, kalau lihat efek multitasking barusan, wajar banget kalau kita mikir: “Kalau bikin capek, kenapa orang masih multitasking?” 🤔
Jawabannya sederhana: seringkali multitasking itu bukan pilihan, tapi keadaan. Pernah gak kamu ngerasa tugas numpuk, deadline berbarengan, saking banyaknya sampai bingung harus mulai dari mana? Alhasil, semua dikerjain setengah-setengah. Eh, ujung-ujungnya malah ada tugas yang kelewat deadline. 😅
Yup, itu realita kenapa banyak orang kejebak multitasking. Yuk kita bahas lebih dalam.
Kenapa Orang Terjebak Multitasking?
-
Tugas Numpuk dan Deadline Berbarengan ⏰
Bikin panik, jadi semua dikerjain sekaligus biar aman. -
Kurang Jelas Prioritas 📌
Semua keliatan penting, padahal ada yang harusnya duluan. -
Takut Kelupaan 🧠
Akhirnya semua dibuka sekaligus, tapi gak ada yang bener-bener selesai. -
Lingkungan yang Menuntut 💼
Atasan, klien, bahkan keluarga sering minta banyak hal sekaligus.
Jadi multitasking itu bukan semata “gaya”, tapi sering jadi mekanisme bertahan biar gak keteteran. Makanya bukan salah orang sepenuhnya kalau jadi multitasking, tapi lebih ke sistem manajemen tugas yang belum rapih.
Cara Biar Lebih Teratur dan Gak Kejebak Multitasking
Kalau multitasking bikin capek, gimana cara ngatasinnya? Ini beberapa metode yang bisa dicoba:
a. Eisenhower Matrix
Bagi tugas jadi 4 kategori:
-
Penting & Mendesak → kerjain sekarang.
-
Penting tapi Tidak Mendesak → jadwalkan.
-
Mendesak tapi Tidak Penting → delegasikan kalau bisa.
-
Tidak Mendesak & Tidak Penting → skip aja.
b. Daily Priority List (3 Tugas Utama)
Cukup pilih 3 tugas paling penting tiap hari. Kalau udah selesai, baru kerjain sisanya.
c. Gunakan Reminder Digital
Google Calendar, Trello, atau Notion bisa bantu atur deadline. Jadi gak perlu multitasking cuma buat “ngingetin diri”.
d. Teknik Pomodoro
Fokus 25 menit → istirahat 5 menit. Bikin otak lebih segar dan kerja lebih efisien.
e. Belajar Bilang “Tidak”
Gak semua hal harus dijawab “iya”. Menolak permintaan kecil bisa bikin tugas utama lebih terkendali.

Manfaat Berhenti Multitasking
Kalau kamu mulai mengurangi multitasking, ada banyak efek positifnya:
-
Energi mental lebih awet.
-
Hasil kerja lebih berkualitas.
-
Gak gampang lupa.
-
Lebih tenang dan minim stres.
-
Deadline bisa ke-handle dengan rapi.
Sibuk Bukan Berarti Produktif
Multitasking memang bikin kita keliatan sibuk. Tapi sibuk belum tentu produktif. Kadang, justru bikin capek duluan tanpa hasil berarti.
Mulai sekarang, coba deh kerjain satu hal dalam satu waktu. Fokus, atur prioritas, dan pakai metode yang udah kita bahas. Ingat: lebih baik fokus selesai daripada sibuk setengah-setengah.
👉 Jadi, masih mau multitasking atau siap beralih jadi #TeamFokus? 😏
BACA JUGA: 10 Resep Dessert Pisang Bergizi untuk Kamu yang Rutin Olahraga