Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba kepikiran:
“Dia kok berubah ya?”
Lalu tangan refleks buka profilnya, scroll story lama, cek komentar, sampai kepo “siapa yang like ini-itu”.
Awalnya mungkin terasa sepele—sekadar penasaran. Tapi kalau rasa penasaran itu berubah jadi kebiasaan mengintip, mencari-cari, atau membongkar hal yang orang lain sengaja sembunyikan, Islam punya istilah yang sangat tegas untuk itu: tajassus.
Tajassus bukan cuma “kepo”. Ia berkaitan dengan privasi, kehormatan, dan adab antar sesama.
Apa Itu Tajassus?
Secara sederhana, tajassus adalah tindakan memata-matai, menyelidiki, atau mencari-cari aib/kesalahan orang lain—terutama hal-hal yang sebenarnya tidak pantas kita buka, dan orang itu sengaja menutupinya.
Contoh gampangnya:
-
mengintip chat seseorang tanpa izin,
-
membuka HP pasangan/teman diam-diam,
-
“stalking” berlebihan sampai menggali info pribadi,
-
mencari bukti-bukti untuk membenarkan prasangka,
-
sengaja cari “celah” supaya bisa membicarakan orang lain.
Intinya: tajassus itu mengorek yang bukan hak kita.
Dalil Larangan Tajassus dalam Islam
Larangan tajassus disebut langsung dalam Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat ayat 12: Allah memerintahkan orang beriman menjauhi prasangka, melarang tajassus, dan melarang ghibah.
Yang menarik, ayat ini seolah menunjukkan “alur” kebiasaan yang sering terjadi:
prasangka → tajassus (mencari-cari) → ghibah (membicarakan).
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menguatkan larangan ini dalam hadits sahih. Dalam Sahih Bukhari, Nabi ﷺ bersabda agar berhati-hati dari prasangka, serta jangan mencari-cari kesalahan dan jangan memata-matai.
Hal yang sama juga ada dalam Sahih Muslim.
Kenapa Tajassus Itu Berbahaya?
Karena tajassus jarang berhenti di “tahu doang”. Biasanya berlanjut jadi:
-
Makin curiga
Semakin dicari, semakin ada “bahan” untuk menuduh. -
Buka pintu ghibah
Begitu dapat info, biasanya ingin cerita—minimal ke satu orang. Padahal itu bisa jadi ghibah/fitnah. -
Merusak kepercayaan
Sekali ketahuan “diintip”, hubungan retak. Orang jadi merasa tidak aman. -
Merusak suasana hati sendiri
Kepo itu capek. Hati jadi gelisah, fokus hidup berantakan, dan sulit husnuzan.
Bahkan ada peringatan keras dalam hadits: kalau seseorang terbiasa mengikuti aib/kesalahan orang, itu bisa merusak mereka (atau hampir merusak).
Contoh Tajassus di Era Digital
Di zaman sekarang, tajassus bisa “berbaju modern”, misalnya:
-
Cek HP pasangan karena takut diselingkuhi, tanpa izin.
-
Baca chat teman saat dia tinggal sebentar.
-
Cari-cari identitas orang dari foto/story, lalu sebar di grup.
-
Minta screenshot untuk “bukti”, padahal konteksnya belum jelas.
-
Ngulik masa lalu orang hanya untuk menemukan kesalahan.
Kadang kita mengira itu “demi kebaikan”, padahal cara yang dipakai tetap melanggar adab.
Tajassus vs Tahassus: Apa Bedanya?
Kamu mungkin pernah dengar “tahassus” juga.
Beberapa penjelasan ulama menyebut:
-
Tajassus cenderung digunakan untuk mengintai/mencari kesalahan (konotasinya buruk).
-
Tahassus bisa bermakna “mencari kabar/informasi” yang konteksnya bisa netral atau baik (misalnya mencari berita yang benar).
Namun, dalam praktik sehari-hari, patokan amannya begini:
Kalau itu urusan pribadi orang lain, lalu kita cari lewat cara yang tidak pantas—itu sudah masuk zona tajassus.
Cara Mencegah Tajassus: 10 Langkah Praktis yang Realistis
Bagian ini yang paling penting. Karena mencegah tajassus bukan cuma “niat baik”, tapi perlu kebiasaan baru.
1) Kenali pemicu kamu
Tajassus sering muncul karena:
-
takut kehilangan,
-
trauma,
-
iri,
-
atau kebiasaan scroll gosip.
Kalau pemicunya ketahuan, pencegahannya lebih gampang.
2) Latih “tahan 10 menit”
Saat muncul dorongan kepo, tunda 10 menit.
Biasanya dorongan itu menurun kalau tidak langsung dituruti.
3) Potong dari akar: prasangka
Karena tajassus sering lahir dari prasangka, biasakan husnuzan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya ucapan… dan jangan memata-matai (tajassus).” (HR. Bukhari & Muslim)
4) Jika ada masalah, pilih tabayyun (klarifikasi) dengan adab
Tabayyun itu jalan yang lebih bersih daripada “mengintip-ngintip”.
Al-Qur’an mengajarkan untuk memeriksa kabar agar tidak menzalimi orang.
5) Tegaskan batas privasi di rumah & kantor
Contoh batasan sehat:
-
HP itu personal (meski suami/istri, tetap adabnya izin),
-
tidak baca chat orang,
-
tidak menyimpan screenshot obrolan pribadi.
6) Stop “konten pemicu”
Kalau kamu follow akun gosip, drama, atau konten bongkar aib—itu seperti memelihara tajassus versi halus.
Mute/unfollow itu termasuk ikhtiar menjaga hati.
7) Ganti “ingin tahu” jadi “ingin doakan”
Setiap kamu kepo urusan orang, latih diri: “Ya Allah, mudahkan urusannya.”
Terlihat sederhana, tapi ini latihan besar untuk jiwa.
8) Jangan kumpulkan “bukti” untuk menang debat
Ini yang sering tidak disadari: tajassus dipakai buat menguatkan posisi kita.
Padahal Islam mengajarkan adab, bukan menang-menangan.
9) Kalau sudah tahu aib, jangan sebar
Poin ini krusial: jangan jadikan “temuan” sebagai bahan obrolan.
Karena ujungnya bisa ghibah/fitnah, dan merusak kehormatan orang.
10) Taubat + sistem pencegahan
Kalau pernah melakukan tajassus, jangan putus asa.
Taubat, lalu pasang pengaman: kurangi trigger, ubah pola pertemanan/grup, dan jaga adab digital.
Penutup
Belajar meninggalkan tajassus itu bukan berarti kita jadi “tidak peduli”. Justru ini tanda kita menjaga adab, menjaga kehormatan sesama, dan menjaga hati sendiri agar lebih tenang.
Karena semakin kita sibuk mengorek urusan orang, semakin kita kehilangan fokus memperbaiki diri.
BACA JUGA: Tasyabbuh: Pengertian, Contoh, dan Batasannya dalam Islam